Darmawan menilai, digitalisasi sistem kelistrikan terbukti mampu meningkatkan keandalan pasokan listrik. Termasuk di antaranya adalah monitoring ketersediaan pasokan energi primer untuk pembangkit yang terpantau secara digital dan terintegrasi dengan sistem database di Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) selaku regulator.
“Dengan pendekatan digitalisasi, PLN tidak hanya meningkatkan responsivitas dalam menangani gangguan tetapi juga menjaga stabilitas pasokan listrik di tengah tingginya permintaan selama libur Ramadan dan Idulfitri,” imbuh Darmawan.
Berdasarkan monitoring yang terdigitalisasi ini, daya mampu pembangkit terpantau sebesar 67 gigawatt (GW), sementara beban puncak (BP) secara nasional sebesar 45 GW. Sehingga, masih terdapat cadangan daya (_reserve margin_) yang mumpuni hingga 22 GW atau sebesar 49% yang sangat ideal dalam memastikan suplai kelistrikan di momen penting ini.
Kekuatan daya mampu pembangkit tersebut juga ditopang oleh kecukupan dari pasokan batu bara yang lebih dari 22 hari operasi (HOP), gas lebih dari 30 HOP, dan BBM lebih dari 20 HOP.
Dalam kesempatan ini juga dilakukan peninjauan secara daring ke unit-unit PLN se-Indonesia. Dari pemantauan ini, seluruh unit termasuk Subholding, dan Anak Usaha PLN Group _all out_ memberikan layanan kelistrikan yang prima selama periode Ramadan hingga Hari Raya Idulfitri.
Di antaranya, PLN Unit Pelaksana Transmisi (UPT) Balikpapan. Manager PLN UPT Balikpapan, Jati Pharmadita menjelaskan, bahwa dari total 29 Gardu Induk Kapasitas trafo daya sebesar 2.100 MVA dan jalur transmisi sepanjang 1.926 km sirkuit yang melayani dua provinsi Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara telah dalam posisi siap siaga dan tidak terjadi kendala apa pun.